Langkah Menuju Puncak - Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia

Langkah Menuju Puncak

Setiap kali menemani wisatawan mancanegara ke Gunung Bromo dan Kawah Ijen sejak Agustus 1988, keinginan untuk mengajak wisatawan  menapakkan...



Setiap kali menemani wisatawan mancanegara ke Gunung Bromo dan Kawah Ijen sejak Agustus 1988, keinginan untuk mengajak wisatawan  menapakkan kaki di puncak Gunung Semeru selapis demi selapis semakin tinggi.

Pembuka Pintu         


Menemani Sebastiao Ribeiro Salgado, seorang fotografer berkebangsaan Brasil dengan spesialisasi foto jurnalisme dan foto dokumentasi, memotret selama 10 hari di Kawah Ijen Desember 1991, menjadi pembuka pintu mewujudkan impianku.  Pernyataan Salgado ketika makan malam di pondok pengangkut belerang, membuat kepalaku membesar saking bahagianya. Katanya begini: ”Yoni, saat pertama melihatmu aku ragu. Apa kamu mampu menemaniku motret di Kawah Ijen, karena kamu perempuan dan badanmu kecil. Namun, ketika kamu menjelaskan logistik yang diperlukan selama di gunung, aku percaya padamu. Terlebih dalam beberapa hari menemaniku, kamu telah mengkoordinir semuanya dengan sangat baik.”

          Tugas menemani Salgado tuh dari Aneka Kartika Tours & Travel. Mas Adjie Wahjono yang bertugas di inbound tour mengantarku menemui Salgado di tempatnya menginap di Hotel Hyatt (sekarang Bumi Surabaya City Resort). Setelah Salgado menjelaskan tujuannya memotret, kami bertiga mendiskusikan logistik selama 10 hari, khususnya 7 hari tinggal di Kawah Ijen. Kemudian kami bertiga berbelanja logistik yang diperlukan di swalayan.

          Esok paginya, dari Surabaya diantar sopir menuju Desa Tamansari, Licin, Banyuwangi. Menginap semalam di rumah teman Pak Welly Njotowidjojo, pemilik Aneka Kartika T&T. Malam itu juga aku bertemu dengan dua orang penambang belerang yang akan membantuku selama menemani Salgado. Kujelaskan tugas mereka, yaitu membawakan persediaan bahan makanan, perlengkapan masak dan makan minum, sleeping bag, serta perlengkapan pribadi. Disamping itu juga menjaga keselamatan selama Salgado berkegiatan.

          Pada tahun itu belum ada jalan untuk mobil hingga Paltuding. Dari rumah kami menginap, naik mobil pickup  hingga Dusun Jambu, lalu berjalan kaki melewati jalan setapak di hutan hingga Paltuding. Selanjutnya lewat jalan yang sama seperti yang ada saat ini hingga di Pondok Bunder, tempat kami menginap.

          Setiap jam 4 pagi, Salgado naik ke puncak dan turun ke kawah, ditemani seorang porter.  Jam 6 aku menyusul ke kawah  ditemani satu porter lainnya, membawakan makanan. Ia memotret kegiatan para penambang di antara kepulan asap yang baunya sangat menyengat, hingga sekitar jam 11. Aku selalu berada di dekatnya, membantu berkomunikasi, dan sesekali menjadi tripot – kepalaku sering menjadi dudukan kameranya…haha.


Sepuluh Tahun Menapak Semeru dan Bromo

          Penilaian Salgado, memotivasiku membuat program trekking di Gunung Semeru dan Bromo. Sebelumnya aku pun pernah mendapatkan saran membuat trekking ini dari Mbak Nurul Almy Hafild atau yang biasa disapa  Emmy Hafild (almarhumah) ketika ia masih bekerja di Ista Travel di Jakarta. Salah satu tour yang dipunyai adalah  trekking di Ujung Kulon. Ketika suatu hari aku mengunjunginya di kantor, ia berucap: “ Sebenarnya aku tidak cocok bekerja di BPW (Biro Perjalanan Wisata), karena harus berpikir memperoleh profit. Semoga Mbak Yoni bisa menyalurkan hobi dengan bikin trekking dan menyukai bisnis.” Ketidak cocokannya masuk akal  karena ia adalah aktifis lingkungan hidup sejak mahasiswi. Kelak, beragam posisi  diraihnya. Mulai  di Yayasan Indonesia Hijau, Skephi, Walhi, hingga direktur eksekutif Greenpeace Asia Tenggara.

          Meski kuliahku di ekonomi jurusan akuntansi, aku tidak punya sense of business. Supaya aku bisa menciptakan trekking di Gunung Semeru yang memberikan manfaat bagi banyak orang, maka aku harus bekerja sama dengan BPW. Maka sekitar dua tahun kemudian, kuutarakan niatku  pada Pak Welly Njotowidjoyo, pemilik Aneka Kartika Tours & Travel. Alhamdulillah programku diterima. Aneka Kartika yang memasarkan dan menyediakan perlengkapan. Sedangkan  aku  mengkoordinir di lapangan. Pesannya hanya satu: ” Trekking ini bukan lagi hanya menjadi hobimu, tetapi pekerjaanmu”.

          Kuajak satu teman sesama anggota di klub Pecinta Alam MGM (Maharanee Gipsy & Mountaineers), Mas Kuntadi Sudiro, untuk membantu trekking ini. Aku memilihnya, karena ia punya banyak pengalaman pendakian di dalam dan luar negeri. Tanggal 03-05 Agustus 1995, tibalah wisatawan (selanjutnya kusebut tamu) pertama dari Prancis sebanyak 6 orang.  Seminggu sebelum mereka tiba, Mas Kuntadi mendapatkan pekerjaan di Freeport Indonesia di base camp Timika. Tentu saja aku kelabakan. Aku harus melakukannya sendirian.

          Syukurlah ada  satu teman lainnya di MGM, Mas Sari, yang bersedia membantuku mengantarkan tamu perdana ke Gunung Semeru. Di Kalimati (2.700 mdpl) kami berdua dibantu porter mendirikan tenda dan memasak. Dini hari esoknya, mengantar hingga ke puncak (3.676 mdpl).

          Astaga, ternyata pekerjaan ini sangat berat dan resikonya tinggi. Saat  melangkah naik di jalan berpasir dari perbatasan vegetasi hingga puncak, aku benar-benar gempor. Karena setiap melangkah naik, kaki  merosot lagi. Badanku pun beku, terlebih di bagian bibir. Aku sulit membuka mulut untuk bicara. Bersyukur Mas Sari, dua porter yang kuajak naik, dan Nicolas Nouhen, tour leader Prancis, sangat tangkas. Mereka membantu dan menjaga keselamatan tamu dengan penuh tanggung jawab. Bagaimana  nasibku? Dengan terpaksa satu porter harus selalu menggandengku, supaya badanku tidak terbang terbawa angin yang tiupannya sangat kencang.

          Seusai trekking  dan mengevaluasi, aku lebih memahami, beda banget  rasa dan tanggung jawab yang ada, bila naik gunung bersama teman-teman dan bila mengantarkan wisatawan. Perlengkapan pendakian, makanan dan minuman, P3K, ketepatan waktu, kesigapan tim, keamanan tamu dan tim, kelestarian lingkungan, kesolidan tim, dan banyak lainnya yang mendukung, harus benar-benar diperhatikan. Bila dipikir-pikir, trekking ini sangat berat bagiku. Karena memerlukan badan yang kuat.  Namun aku telah memulai dan pantang menyerah. Oleh karena itu aku harus mengukur kekuatanku, apalagi usiaku sudah 37 tahun. Sebagai koordinator, aku mempersiapkan semua yang diperlukan. Aku harus punya tim yang solid, terdiri dari pemandu gunung, koki, dan porter. Kedatangan tamu kedua dan berikutnya, aku mengikuti perjalanan hanya hingga  basecamp di Kalimati. Membantu teman-teman dan memastikan semuanya sesuai perencanaan.

          Awal tahun 1996 aku bertemu Kepala Dinas Pariwisata Malang, Pak Sunardi (almarhum), teman bapakku. Kuceritakan trekking Semeru yang kujalankan. Mas Tohari (almarhum), seorang  pramuwisata atau pemandu wisata yang tinggal di Malang dan juga temanku di organisasi profesi HPI (Himpunan Pramuwisata Indonesia), dititipkan untuk  bergabung di tim trekking Semeru.

          Tahun itu juga yang merupakan tahun kedua, Mas Tohari bersama dua temannya dari Edelwijs, klub Pecinta Alam STIBA Malang ─ Akhmad dan Jenjang ─ membantuku. Tahun ketiga, Pak Welly meminta Mas Tohari menjadi staf di kantor. Aku sendirian lagi. Supaya trekking Semeru tetap berjalan, kuminta ia mengenalkan teman lainnya. Aku pun meminta dua teman di MGM menjadi asistenku, Tjatur Sudarmono/Nono (almarhum) dan Agung Rahmandra/Hendra. Keduanya membantu menyiapkan perlengkapan, makanan, dan P3K yang dibawa hingga menyimpan kembali. Selain itu Nono juga menjadi pemandu gunung dan Hendra menjadi koki.

          Sejak tahun ketiga itu pula banyak teman yang bergabung, ada yang dari Edelwijs, Kaldera, Batu dan Tumpang (tidak tergabung di pecinta alam),  diantaranya ─  Heru Sukarno, Syaiful Bahry, Bayu Krisna, Muhammad Said (almarhum), Jhoni, Choly/William, Irul, dan Monggang. Alhamdulillah di tahun ketiga hingga keempat, Mas Tohari masih bisa membantu.

          Kelancaran trekking ini pun atas bantuan Pak Sarmin, Kepala PHPA (Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam) Resort Ranupani,  yang memberikan izin pendakian dan mengkoordinir jeep serta porter.  Disamping itu ada Pak dan Bu Tasrip. Tamu dan tim menginap di rumahnya di Desa Ranupani. Bu Tasrip memasak  makanan tamu dan tim yang dimakan selama menginap dan juga membuatkan ayam goreng untuk dibawa. Di basecamp Kalimati ayam goreng  dibumbui menjadi ayam kecap.

          Trekking di Gunung Semeru kudampingi hingga tahun 2005. Selama kurun waktu 10 tahun itu banyak pengalaman dan pelajaran yang didapatkan. Pengalaman menyenangkan, menegangkan, sewot, dan lucu datang silih berganti. Pelajaran pun beragam, tentunya menambah pengetahuan dan ketrampilan anggota tim sukses.


Rute Perjalanan

          Wisatawan Aneka Kartika Tours & Travel yang trekking di Semeru dan Bromo  berasal dari dua negara, Prancis  dan Jerman. Satu grup ada 4-12 pax. Travel yang mengurusnya adalah Atalante (Prancis), UCPA (Prancis), Hauser (Jerman), dan Ikarus (Jerman).  Kedatangan mereka saat high season. Per tahun sekitar 4-5 grup.

          Setelah wisatawan selesai berwisata di Jawa Tengah dan Yogyakarta, mereka naik kendaraan  yang disediakan BPW Yogyakarta,  menuju rumah Pak Sarmin di Desa Tumpang Malang (Rani Homestay). Bu Sarmin menyambut kedatangan tamu dan menyuguhi teh, kopi, pisang goreng, dan beberapa kue tradisional. Sedangkan Pak Sarmin menyiapkan jeep yang akan mengantarkan  ke Desa Ranupani.

          Tim trekking pun menuju rumah Pak Sarmin. Teman-teman yang menjadi pemandu gunung berangkat dari Malang. Dua asisten bersamaku membawa perlengkapan  dan bahan makanan, berangkat dari Surabaya.  

          Tiba di rumah Pak Tasrip biasanya sekitar jam 17.00-18.00. Segera makan malam, packing, dan istirahat. Esoknya porter dan koki berangkat terlebih dulu. Sesampai di Ranu Kumbolo, koki dan satu-dua porter bertugas menyiapkan makan siang. Porter lainnya langsung menuju Kalimati untuk mendirikan tenda, dapur, tempat untuk makan malam, dan mengambil air di sumber.

          Jam 19.00 semua tamu dan tim yang akan mengantar ke puncak harus bobok manis. Tim terdiri dari pemandu gunung dan porter yang bertugas untuk backup. Jumlah pemandu gunung dan porter yang naik ke puncak tergantung dari jumlah tamu.

          Sebelum keberangkatan ke puncak, sekitar jam 00.30, tamu makan sup krim ditemani roti baguette (roti khas Prancis) dan minum teh/kopi. Roti baguette kupesan khusus pada teman yang bekerja di kantin  CCCL (Centre Culturel et Cooperation Linguistique). Ukuran yang biasanya panjang dibuat pendek, supaya memudahkan tamu memakannya. Setiap orang mengambil satu atau dua dan langsung dicelupkan di dalam sup supaya tekstur roti menjadi lunak.

          Tamu bersama tim yang mengantar ke puncak telah berangkat. Tim yang tinggal meneruskan tidur-tidur ayam ditemani handy talky, karena harus siaga bila tim di atas memerlukan bantuan.

          Tamu dan tim biasanya tiba kembali di Kalimati sekitar jam 09.00. Setelah membersihkan tangan langsung makan pagi, istirahat sebentar, dan bersiap turun ke Ranupani. Di Ranu Kumbolo beristirahat ditemani teh/kopi dan brownies bikinan Mbak Lies, saudaraku. Di sini mereka bersantai sambil menikmati keindahan danau. Setelah cukup, meneruskan langkah ke Ranupani dan menginap di rumah Pak Tasrip lagi.

          Esok paginya program untuk tamu Prancis  trekking dari rumah Pak Tasrip  melewati Desa Ranupani, lalu turun ke savana, naik ke tepi Kawah Bromo, melintasi lautan pasir dan berhenti di Bromo Permai atau Lava View. Sedangkan ransel tamu dan perlengkapan trekking diangkut  jeep. Esoknya naik jeep  ke Penanjakan. Setelah matahari terbit naik jeep turun dan berhenti di Bukit Kingkong. Selanjutnya trekking hingga di penginapan. Sedangkan program untuk tamu Jerman dari rumah Pak Tasrip naik jeep ke Bromo, tamu ke tepi kawah dulu, lalu ke Grand Bromo Hotel. Esoknya  naik jeep ke Penanjakan melihat sunrise.


Cerita Perjalanan

         Meski kegiatan wisatanya adalah naik gunung tertinggi di Jawa, 3.676 mdpl, tetapi tidak semua tamu terbiasa naik gunung. Malahan ada yang tidak pernah. Ada satu tamu wanita, usianya 71 tahun. Ia perokok dan jemari tangannya sudah agak tremor. Karena kegigihannya, ia berhasil menapakkan kaki di puncak Gunung Semeru.

          Ada pula seorang perawat yang bekerja di sebuah RS di Prancis. Usianya sekitar 55 tahun. Sepanjang perjalanan, ia bicara pada diri sendiri, memotivasi supaya kuat berjalan. Aku menemani tanpa mengganggunya. Meski tamu bicara bahasa Prancis, aku mengerti sedikit-sedikit, karena pernah kursus. Sayang sekali sampai detik ini belum berani untuk berbicara  bahasa Prancis, haduh. Saat makan malam tamu itu bagai seorang ibu.  Dengan ceria mengajak ngobrol dan meladeni makan tamu lainnya. Apakah ia sampai di puncak? Jawabannya, iya. Luar biasa banget.

          Cerita lainnya, tahun 1998 ada grup dari Prancis. Sebagian besar tamunya masih muda dan single. Nah, Franck Michel, tour leader, dapat bisikan dari satu tamu pria. Dia ingin menyatakan cintanya pada salah satu tamu wanita. Franck menceritakan padaku dan kami pun merundingkan sesuatu yang spesial. Di Kalimati, sebelum makan malam, pria itu diajak Franck memetik bunga rumput dan memberikan pada wanita pujaannya sambil berlutut. Duh, romantisnya. Makan malam pun dilalui dalam suasana yang indah. Apalagi saat itu bintang bertebaran di angkasa.

          Satu cerita lagi. Tahun 1997, ketika turun dari Ranu Kumbolo, ada kebakaran hutan. Saat itu aku tidak ikut naik. Selama menunggu di Ranupani, tentu saja pikiranku nano-nano dan hatiku sangat gelisah, karena mengkhawatirkan keselamatan tamu dan tim. Alhamdulillah semuanya selamat.


Pensiun dari Gunung Semeru

          Setelah sepuluh tahun mengurusi wisata minat khusus, trekking di Gunung Semeru dan Bromo, Allah menuntun langkahku mengayun kembali ke jalur wisata pada umumnya yang dipunyai BPW. Naik gunungnya yang pendek saja, Bromo dan Ijen.

          Hampir seluruh wisatawan mancanegara yang kutemani menyukai budaya. Aku pun memperdalam pengetahuan tentang adat istiadat dan kearifan lokal di tempat wisata yang banyak dikunjungi wisatawan.

          Di beberapa desa di Bromo dan Banyuwangi, aku mempunyai banyak teman. Wisatawan kuajak jalan-jalan dan mampir ke rumah mereka, untuk berinteraksi dan mengetahui kearifan lokal yang ada.

          Sebuah penghargaan telah kudapatkan dari Audley, sebuah travel agent di UK.  Exellent Guiding of Audley Clients. Penghargaan tersebut kuterima di Myanmar, pada 05 Juni tahun 2016, bersama Bli Gede Pariasa, pramuwisata dari Bali.

          Ohiya, Allah juga menuntun ayun langkahku menjadi trainer untuk ekowisata dan asesor kompetensi pemandu ekowisata dan pemandu wisata. Bermula dengan undangan mengikuti TOT untuk pemandu ekowisata yang diselenggarakan oleh Indecon (Indonesian Ecotourism Network) dan ILO ( International Labor Organization) pada November 2011 di Tosari Bromo. Setelah TOT disambung dengan pelatihan menjadi asesor kompetensi untuk pemandu ekowisata di Pasuruan. Selanjutnya bergabung di LSP Pariwisata (Lembaga Sertifikasi Profesi) Nusantara di Bandung, lalu LSP Pariwisata Nasional di Surabaya, dan sekarang di LSP Pariwisata Semesta Nusantara (Paresta) di Batu. LSP yang terakhir pendiriannya dibidani 12 asesor, termasuk aku dan Mas Tri Sulihanto Putra yang biasa dipanggil Aan, salah satu Dewan Pengurus APGI Provinsi Jawa Timur.

         Saat mengikuti TOT, bertemu dengan teman-teman yang peduli dengan ekowisata. Aku pun bergabung di komunitas mereka, EJEF (East Java Ecotourism Forum). Bersama teman-teman, aku belajar banyak tentang ekowisata. Sesekali   mendapatkan tugas menjadi nara sumber untuk pemandu ekowisata, pemandu wisata budaya, dan pemandu ecopark.

          Aku pun pernah sekali mengases pemandu gunung muda, tanggal 16-17 Februari 2022, di  BeSS Resort&Waterpark Hotel And Convention – Lawang. Asesmen dilakukan setelah asesi (peserta asesmen) selesai pelatihan menjadi pemandu gunung yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Jawa Timur dan APGI.


Panggilan Gunung Pawitra

          Setelah absen mengurusi trekking selama 11 tahun, gunung memanggilku kembali. Tanggal 01-02 Mei 2016, aku mengikuti jelajah situs Gunung Pawitra (Penanggungan) dan menginap di puncak Bekel, bersama teman-teman pecinta Pawitra. Di sanalah aku berkenalan dengan beberapa teman. Karena mereka tau profesiku, maka aku diajak membuat paket wisata trekking di Pawitra. Disamping melihat sunrise di puncak, juga mengenal situs yang dilewati.

          Ada 6 orang sepakat mendirikan Seto Herittage. Base camp di rumah Mbak Yuli di Dusun Biting , Seloliman, Trawas. Alhamdulillah tahun 2017 – 2019  mendapatkan  grup tamu Prancis dari Java Authentique Tours. Trekking dua hari satu malam, menginap di tenda yang kami dirikan di halaman Candi Lurah. Tamu sangat menyukai trekking ini. Sayang sekali harus berhenti karena pandemi.  Apakah akan ada lagi? Entahlah. Semoga gunung dan para leluhur yang bersemayam di Pawitra berkenan memanggil lagi. Perlengkapan trekking pun masih menunggu dengan setia di base camp.

 

Tim yang Solid

          Semua jenis wisata tidak akan berhasil tanpa adanya pengelolaan yang baik dan tim yang solid. Semudah itukah pelaksanaannya? Oh, tidak. Semisal masakan, supaya sedap dan maknyus harus diberi bumbu istimewa. Resep masakan didapat melalui beberapa percobaan, hingga didapatkan yang tepat.

          Sahabat-sahabatku di tim trekking Semeru, Bromo, dan Pawitra, terima kasih telah melangkah bersamaku mengukir sejarah di dunia pariwisata khususnya sebagai pemandu wisata gunung. Without you, I was nothing. Teruskan langkahmu di dunia wisata jenis apa pun itu. Keep it up. I proud of you

@Yoni Astuti Surabaya, 18 Maret 2025

avatar

Terima kasih Mba Yoni..sudah menulis cerita kepemanduan gunung yang sudah dilakukan sejak awal 1990...jauh sebelum APGI berdiri..Ini beberapa point yang sangat menarik dan bisa dipelajari sama teman2 Pemandu dan TO2 sekarang dari perjalanan kepemanduan Mba Yoni sejak 30 tahun lalu.
1. Berhubungan dengan Agen2 TO Asing besar seperti Belarus, Atalante n Ikarus...ini PR gede buat TO Lokal sekarang.
2. BPW (Perusahaan Travel Biro) yg sampe sekarang sangat sulit dikonek oleh TO2 Gunung harus terus dibangun link nya dengan presentasi yang lebih profesional dan menguntungkan BPW dan Agen Asing.
3. Manajemen Pengelolaan Pendakian dengan Spesial Trip atau Durasi Pendakian Panjang yang detail dan komplek yang melibatkan banyak Guide, Ass Guide, Cooker dan Porter merupakan capaian luar biasa yang hari ini belum banyak dipahami TO2 hari ini.
4. Perjuangan Mba Yoni dalam mengadakan peralatan dari sederhana hingga import tenda Heuser dari Jerman. Merupakan capaian motivasi yang luar biasa tinggi dengan keterbatasan tahun2 tersebut.
5. Kemampuan multi bahasa (bahasa asing) menjadi KEHARUSAN/WAJIB jika TO2 lokal mau main kelas Dunia.
6. Pekerjaan/Profesi yang dijalankan penuh komitmen akan berhasil (Mba Yoni dapat penghargaan "Best Guide" di Korea dari TO Asing.
7. Bukan Halangan buat Pemandu Perempuan untuk berprestasi (malah menjadi keunggulan/kelebihan tersendiri) yang menjual.
8. Jika yang dikerjakan Mba Yoni 30 Tahun lalu jika DAPAT dikopipaste di 20 Gunung2 Besar di Indonesia maka luar biasa hasilnya buat kemajuan Industri Gunung dan kepemanduan Gunung Indonesia pada umum nya.

avatar

Tulisan Penuh Kenaggan ... Untuk para pendaki semeru di kala itu - Semeru 1993

avatar

Terima kasih Mas Ronie Ibrahim, sudah diajakin berbagi cerita

Out Trusted Partners

  • APGI 2025 - 2028